Friday, 26 December 2014

Teks drama dari EMPU GANDRARIMA (Puisi, Gamelan, Drama, Tari dari semester LIMA)


Teks drama dari EMPU GANDRARIMA (Puisi, Gamelan, Drama, Tari dari semester LIMA)
Karya : Egya Dinar


Sceen 1:
            Bak raja menopang tahta, mengalahkan jagat raya. Menantang dagu, berwajah tak lugu. Dengan mata menantang dan tangan bertenteng, walau tanpa musik berdendang. Yang tersiratkan getir-getir kehormatan, terpercik dengan begitu sangar. Berjas rapi, menebar aroma wangi di sepanjang pagi. Membuai hari yang kan dinikmati hingga ufuk tak terlihat kembali. Menelannya menjadi rona kehidupan dalam kehiruk-pikukan kota.
Kilatan mata yang tajam membuatnya dikenal dengan penuh kekejaman yang menghujam. Ketika langkah kaki para tetangga melewati kediaman pak Raden, mereka pun bertatap muka dengannya walau hendak bersiap menerjang keganasan Sang Raja Rizki.

PUISI PAK LURAH
Oh kalian orang-orang miskin!!!!!!!!!….
Tak lihatkah seperti apa zaman ini sekarang
Kalian masih saja menopang cangkul itu di pundak lusuh kalian
Membopong tenggok di pundak yang mungkin akan reyot
Ini zaman penuh keemasan
Yang hartanya mampu berlimpahan
Dengan tahta yang begitu menawan
Kalian masih saja bergelut dengan tanah-tanah keras itu
Oh sungguh, tak lihatkah kalian AKU yang telah berdasi dan berjas rapi
Kini tak akan KU temui lagi api-api neraka matahari
Dan AKU kini tak akan mati

PUISI TETANGGA
TETANGGA 1:
Wahai Engkau sang pejabat tinggi
Tak sudikah Kau memperhatikan kami dan melestarikan kami
Karena kami pulalah, Engkau kini bertahta tinggi
Menanti jerih payah kami
Di kursi penuh percikan api

TETANGGA 2:
Hai Lurah yang berparas bengis
Menangislah Kau ketika kami tiada
Karena keberadaan kamilah, Engkau bertahta
Membawa mata melihat harta

TETANGGA 3:
Bukan dengan belas kasihmu kami ada
Tapi dengan belas kasih Sang Maha rezekilah, kami menengadah.
Dan janganlah Kau bangga dengan apa yang melekat pada kewibawaan semu penuh kepalsuan.
Yang kan menjerumuskanmu dalam kehancuran

TETANGGA 4:
Tak usah kau bertenteng, bak banteng yang tak ganteng
Kini masamu tak akan lama lagi
Karena kau bukanlah yang desa ini cari
Hartamu pun, kami tak kan sudi… (cuuiihh)

Semua yang mereka debatkan, bubar tanpa terselesaikan. Sepah-sepah perdebatan pun tercecer tanpa ada ujung yang merangkum. Para tetangga yang berkoar-koarpun malangkahkan kaki, membekaskan jejak dan menancapkan silat lidah yang tajam sebelum kemegahan hunian pak Lurah ditinggalkan.
Tak berseling lama, terlihatlah seorang berparas cantik, bak puteri yang kakinya menapak keluar menemui pangeran. Yang menebarkan kembang suci yang menjadi mahligai ikatan janji sehati. Ialah yang dengan kelembutan dan kesabaran hati yang tak gentar hingga kini yang terus menemani menjadi belahan jiwa yang tak akan mati.

ISTRI PAK LURAH:
Oh kakanda yang adinda sayang
Adakah sebuah keributan yang tak adinda tahu?
Sepertinya, terdengar gemuruh tetangga yang beradu mulut
Ataukah gemuruh angin topan seperti terdahulu?
Kakanda, Engkaulah kehormatan sejati
Engkaulah topangan pengabdian yang hakiki
Membekaliku di hidup yang penuh misteri
Dan melabuhkan arus panjang penuh teka-teki
Yang kini aku bersamamu mengabdi
            Kakanda, ingatkah Kau tentang tugas mulia ini
            Yang sedari dulu ingin kau selami
            Tapi mengapa kini, kau melihatnya seakan tak bergeming
            Kau diami
            Kau membisu
            Dan kau terlihat acuh
            Mengapa? Mengapa? Dan mengapa???


PAK LURAH:
Diam…..!!!!!!! (memegang pundak isteri)




Sceen 2:

            Perdebatan hati Lurah dengan desanya masih terjangkit serius. Dengan asap yang mengepul di ujung otaknya, pemikiran pun menjadi terkumpul dalam satu kantong. Oh pak Lurah, jagalah hatimu ketika kau menyelami getir kejanggalan sejati, dan memang ini yang engkau cari. Janganlah kau butakan hati dengan pengelihatan yang tak menjaminkan kebahagiaan sejati.

Pak Lurah:
Bukannya AKU berlari dari apa yang telah AKU pelajari
Namun AKU berhak menari diatas kesengsaraan sejati
Hahahaha…..
Membuai mahligai keindahan yang telah bersemi menggapai jemari
Memburu yang ada dikepulan syahdunya bercumbu
Mengadu getar yang pernah kurasakan

Wanita Penggoda 1:
Hai raja tampan yang menawan dan memikat rupawan.
Kau temui aku atau aku temui kau, itu sama saja
Disini bukanlah tempat manis memikat asmara kritis
Membekukan otak menawarkan hati
Dengan kerapuhanmu, dapat dengan mudahnya kini aku membuaimu, kasih sesaat….

Wanita Penggoda 2:
Meredamkan emosimu, akulah ahlinya
Menyandarkan kepalamu di bahuku, akulah yang paling tahu
Meluluhlantahkan masalahmu, itulah hal kecil yang dapat aku kerjakan, sayang….
Kau hanya tinggal merebah, terlentang dan semua akan dengan mudah menghilang, dengan pandang yang kan terpejam.

Wanita Penggoda 3:
Denganku, kau terbiasa melepaskan segala penat yang ada
Aku siap mengabdi untuk dirimu sayang
Menemani setiap detik hingga kau tertidur
Menjelma menjadi malaikat kecil yang ada dikala engkau terlelap
Kini Engkau ada dalam genggamanku,
Wahai raja tampan….

Malaikat BAIK:
Wahai Radenku, akulah jelmaanmu yang tak ingin engkau berselingkuh, sekalipun engkau akan rapuh
Ingatkah dengan perkataan bahwa, wanita adalah makhluk suci penuh nestapa benci sekalinya engkau menyakiti
Jika itu terjadi, maka engka tidak akan mendapatkannya kembali
Racun di hati akan susah hilang, ketika kau goreskan luka yang amat pedih
Pedih dan menghimpit sanubari kecilnya
Terlebih dihati seorang isteri yang Engkau cintai
Sadarlah wahai Radenku.

Malaikat JAHAT
Duhai Radenku yang tampan, Engkau sudah mapan
Mengemban amanat pun telah engkau jalankan
Kini saatnya engkau bersenang-senang
Merintis cumbu manis yang mengikis senja yang tak diketahui
Tak ada yang salah darimu
Engkau pantas begitu
Isterimu tak sepantasnya marah, dan kau berhak melakukan itu
Buka klambu bukan lagi jadi halangan untukmu







Sceen 3

TEMAN YANG JAHAT
Terdengar berita burung
Berhembus sekencang angin
Namun bukan berarti dingin
Selayang hembus yang tergugu
memadu kasih di masa sendu
memburu rindu memanas kalbu
Oh suamimu tega berbuat murka di mata dunia
Tak malukah engkau wahai isteri pak lurah?
Yang terdiam bisu hati membeku
Berdamping sok syahdu toh engkau pun dimadu
Hahaha… lurah macam apa itu?
Hati pun pintar merayu

            Seperti dihantam keras di dasar kalbu, namun tetap tak ada yang tahu bagaimana ia tersedak oleh cakap halus dan menusuk.

PUISI ISTERI
Wahai engkau sang syahdu penata rindu
Tidakkah kau tahu berita panas yang memanas di luar sana
Dengan sumbu yang menggebu sepertinya kita akan jadi masa lalu
Apakah benar engkau menduakan daku wahai pangeranku
Aku memang mencintaimu
Tapi aku tidak mau kau merayu yang ayu
Dan aku tidak ingin kau madu
Teganya kau bermain dibelakangku
Padahal engkau nahkoda perjalananku

Engkau sumbu di desa yang engkau kuasai
Tak sepantasnya, sungguh tak sepantasnya engkau begitu
Kini aku sudah tak mau tahu menahu
Kita bukan lagi insan yang terjalin dengan ikatan janji pernikahan
Dan semua bukan lagi keabadian cinta yang kita punya

TEMAN BAIK
Wahai kau isteri yang berhati mulia dan sabar
Apa yang kini ada dibenakmu
Meratapi serpihan kaca yang pecah,
Tak ada gunanya
Namun, jika kau miliki segudang sampah hati
Keluarkanlah walau tangis membasahi pipi manismu
Meresapilah keagungan misteri Illahi, yang menusuk hingga relung hati
Biarlah air menari menggelitiki geming hati karena setelah itu tak kan ada lagi duka suci

           


Sceen 4
           

            Kini semuanya susah ditebak, semua hanyalah tinggal renungan, walau rancu kepedihan masih mengganjal di kalbu terdalam.

(Pak Lurah duduk di depan rumah sembari merokok)
Bukan dengan mata AKU melihat dunia
Tapi dengan harta AKU mendapatkan semua

            Sembulan rokok yang dia lakukan, tak dapat menghindarinya dari serbuan.
(2 kali sembulaln rokok lalu setelah itu datanglah perampok. Dengan membawa tas gendong biasa yang di dalamnya terdapat tali untuk mengikat pak Lurah.)

PERAMPOK 1
Diam!!!
Tak usah kau coba meronta
Tak usah kau coba teriak
Atau senapan ini kan melesat dengan dahsyat.

PERAMPOK 2
Sudahlah kau
Tak usah banyak cakap, segera jiret dia dan kita kuras habis hartanya

(Setelah pak Lurah selesai di ikat dengan tali di bangkunya tadi, para perampok masuk ke dalam rumah mengambil seluruh harta kekayaan yang terlihat disana)

PERAMPOK 1
Mampuslah kau!!
Setelah isteri telah pergi, harta pun kini tiada
Hahaha….

PERAMPOK 2
Apa lebih baik kau mati?
Apa lebih baik kau tercaci?
Kini bukan lagi harga diri
Engkau seakan semakin sendiri
Tanpa wanita serta harta dan tahta

            Berusaha melepaskan diri dari dua orang penyerang yang menghilang diraup pandangan.
Tiba-tiba kedua orang teman Pak Lurah datang menghampiri:
Teman 1:
Oh sungguh, kau lihat kawan kediaman itu berporak porandakan
Apakah pak Lurah mengamuk atau kenapa?
Sepertinya ada yang tidak beres disana
Ada yang terlihat janggal dan entah apa itu

Teman 2:
Sepertinya tidaklah perlu kita menengok ke dalam sana
Walau kita tak tahu dan entah apa yang terjadi
Ambisi yang salah ketika kita kesana dan ternyata
Sedang ada sang mantan istri berada.

Teman 1:
Tidak, tidaklah mungkin, lebih baik kau ikuti aqu untuk menengok ke dalam.

(teman kedua mengikuti langkah teman 1 yang menuju ke dalam dan melihat pak Lurah dalam dekapan tali)

Teman 2:
Duhai Raden, kaulah seorang Lurah.
Kenapa tali-tali itu dapat menjeratmu?

Teman 1:
Sudahlah lebih baik kita lepaskan dahulu tali-tali ini dari Pak Lurah

(setelah tangan pak Lurah terlepas, ia pun berkata)
Kalian datang disaat yang tidak tepat
Aqu sedari tadi ditawan oleh para perampok bajingan itu
Seluruh hartaqu pun telah tiada
Tak ada gunanya kalian ada disini
Pergi sana….


Selang beberapa menit ketika ia sedag terjongkok merenungi yang baru saja dirasakan, Tak ada angin, tak ada hujan, walau ada rasa yang tak menahu. Dan ternyata ada yang tiba-tiba datang.

BUPATI:
Duhai Lurah, ku serahkan SK pemberhentianmu
Dengan segala masalahmu, kau tidak pantas lagi ada untuk memimpin desa ini
Kuucapkan terima kasih, untuk semua jasa yang kau beri untuk menopang pembangunan negeri ini.

            Entah apa dan mengapa hati kecilnya berasa ciut dan merasa salah. Ketika kemahamakmuran dan tahta tak lagi ada, ketika janji suci pertautan hati tak lagi dimiliki, ketika perjalanan pengabdian sejati hanyalah tinggal meniti. Dan langkah pun kini menjadi terhenti. Entah apa, entah bagaimana, ia merasa harus bersuci. Teringat akan kuasa Tuhan, yang selalu menanti hambanya berserah diri.

Suara hati PAK LURAH
BAIK:
Tuhan dimana titik khilafqu berada
Aqu hanyalah seonggok daging manusia yang terlanjur masuk dalam kepahitan sandiwara hidup.
Dan kini ku berusaha pulang menuju Engkau yang hakiki
Semua telah tak ku punya, sebagi Lurah pun aqu telah diberhentikan.

            Saat ia sedang merenungi masalahnya, sang istri yang dulu pergi kini datang kembali.
PAK LURAH
Duhai Diajeng sayang
Masihkah kau mau menengok abang yang malang
Kini abang tak miliki apapun

ISTRI PAK LURAH
Duh abang yang malang
Diajeng datang karena merasa masih sayang
Tak ada alasan diajeng harus menghilang
Dan kini Diajeng sadar, kemewahan yang dulu ada hanyalah sebagai penghancur rumah tangga belaka

PAK LURAH
Terima kasih Duhai Diajeng, adinda tersayang.

No comments:

Post a Comment

depresi

 kamar yang sunyi memiliki sisi yang sangat ramai  sisi yang berada di kepala seseorang yang sedang merenung karna ada yang melintas singkat...