Teks drama dari EMPU GANDRARIMA (Puisi, Gamelan,
Drama, Tari dari semester LIMA)
Karya : Egya Dinar
Sceen 1:
Bak raja menopang tahta, mengalahkan
jagat raya. Menantang dagu, berwajah tak lugu. Dengan mata menantang dan tangan
bertenteng, walau tanpa musik berdendang. Yang tersiratkan getir-getir
kehormatan, terpercik dengan begitu sangar. Berjas rapi, menebar aroma wangi di
sepanjang pagi. Membuai hari yang kan dinikmati hingga ufuk tak terlihat
kembali. Menelannya menjadi rona kehidupan dalam kehiruk-pikukan kota.
Kilatan
mata yang tajam membuatnya dikenal dengan penuh kekejaman yang menghujam. Ketika
langkah kaki para tetangga melewati kediaman pak Raden, mereka pun bertatap
muka dengannya walau hendak bersiap menerjang keganasan Sang Raja Rizki.
PUISI PAK LURAH
Oh kalian
orang-orang miskin!!!!!!!!!….
Tak lihatkah
seperti apa zaman ini sekarang
Kalian masih
saja menopang cangkul itu di pundak lusuh kalian
Membopong tenggok
di pundak yang mungkin akan reyot
Ini zaman penuh
keemasan
Yang hartanya
mampu berlimpahan
Dengan tahta
yang begitu menawan
Kalian masih
saja bergelut dengan tanah-tanah keras itu
Oh sungguh, tak
lihatkah kalian AKU yang telah berdasi dan berjas rapi
Kini tak akan KU
temui lagi api-api neraka matahari
Dan AKU kini tak
akan mati
PUISI TETANGGA
TETANGGA 1:
Wahai Engkau
sang pejabat tinggi
Tak sudikah Kau
memperhatikan kami dan melestarikan kami
Karena kami
pulalah, Engkau kini bertahta tinggi
Menanti jerih
payah kami
Di kursi penuh
percikan api
TETANGGA 2:
Hai Lurah yang
berparas bengis
Menangislah Kau
ketika kami tiada
Karena
keberadaan kamilah, Engkau bertahta
Membawa mata
melihat harta
TETANGGA 3:
Bukan dengan
belas kasihmu kami ada
Tapi dengan
belas kasih Sang Maha rezekilah, kami menengadah.
Dan janganlah
Kau bangga dengan apa yang melekat pada kewibawaan semu penuh kepalsuan.
Yang kan
menjerumuskanmu dalam kehancuran
TETANGGA 4:
Tak usah kau bertenteng,
bak banteng yang tak ganteng
Kini masamu tak
akan lama lagi
Karena kau
bukanlah yang desa ini cari
Hartamu pun,
kami tak kan sudi… (cuuiihh)
Semua
yang mereka debatkan, bubar tanpa terselesaikan. Sepah-sepah perdebatan pun
tercecer tanpa ada ujung yang merangkum. Para tetangga yang berkoar-koarpun
malangkahkan kaki, membekaskan jejak dan menancapkan silat lidah yang tajam
sebelum kemegahan hunian pak Lurah ditinggalkan.
Tak
berseling lama, terlihatlah seorang berparas cantik, bak puteri yang kakinya
menapak keluar menemui pangeran. Yang menebarkan kembang suci yang menjadi
mahligai ikatan janji sehati. Ialah yang dengan kelembutan dan kesabaran hati
yang tak gentar hingga kini yang terus menemani menjadi belahan jiwa yang tak
akan mati.
ISTRI PAK LURAH:
Oh kakanda yang
adinda sayang
Adakah sebuah
keributan yang tak adinda tahu?
Sepertinya,
terdengar gemuruh tetangga yang beradu mulut
Ataukah gemuruh
angin topan seperti terdahulu?
Kakanda,
Engkaulah kehormatan sejati
Engkaulah
topangan pengabdian yang hakiki
Membekaliku di
hidup yang penuh misteri
Dan melabuhkan
arus panjang penuh teka-teki
Yang kini aku
bersamamu mengabdi
Kakanda, ingatkah Kau tentang tugas
mulia ini
Yang sedari dulu ingin kau selami
Tapi mengapa kini, kau melihatnya
seakan tak bergeming
Kau diami
Kau membisu
Dan kau terlihat acuh
Mengapa? Mengapa? Dan mengapa???
PAK LURAH:
Diam…..!!!!!!!
(memegang pundak isteri)
Sceen 2:
Perdebatan hati Lurah dengan desanya
masih terjangkit serius. Dengan asap yang mengepul di ujung otaknya, pemikiran
pun menjadi terkumpul dalam satu kantong. Oh pak Lurah, jagalah hatimu ketika
kau menyelami getir kejanggalan sejati, dan memang ini yang engkau cari.
Janganlah kau butakan hati dengan pengelihatan yang tak menjaminkan kebahagiaan
sejati.
Pak Lurah:
Bukannya AKU
berlari dari apa yang telah AKU pelajari
Namun AKU berhak
menari diatas kesengsaraan sejati
Hahahaha…..
Membuai mahligai
keindahan yang telah bersemi menggapai jemari
Memburu yang ada
dikepulan syahdunya bercumbu
Mengadu getar
yang pernah kurasakan
Wanita Penggoda
1:
Hai raja tampan
yang menawan dan memikat rupawan.
Kau temui aku
atau aku temui kau, itu sama saja
Disini bukanlah
tempat manis memikat asmara kritis
Membekukan otak
menawarkan hati
Dengan
kerapuhanmu, dapat dengan mudahnya kini aku membuaimu, kasih sesaat….
Wanita Penggoda
2:
Meredamkan
emosimu, akulah ahlinya
Menyandarkan
kepalamu di bahuku, akulah yang paling tahu
Meluluhlantahkan
masalahmu, itulah hal kecil yang dapat aku kerjakan, sayang….
Kau hanya
tinggal merebah, terlentang dan semua akan dengan mudah menghilang, dengan
pandang yang kan terpejam.
Wanita Penggoda
3:
Denganku, kau terbiasa
melepaskan segala penat yang ada
Aku siap
mengabdi untuk dirimu sayang
Menemani setiap
detik hingga kau tertidur
Menjelma menjadi
malaikat kecil yang ada dikala engkau terlelap
Kini Engkau ada
dalam genggamanku,
Wahai raja
tampan….
Malaikat BAIK:
Wahai Radenku,
akulah jelmaanmu yang tak ingin engkau berselingkuh, sekalipun engkau akan
rapuh
Ingatkah dengan perkataan
bahwa, wanita adalah makhluk suci penuh nestapa benci sekalinya engkau
menyakiti
Jika itu
terjadi, maka engka tidak akan mendapatkannya kembali
Racun di hati
akan susah hilang, ketika kau goreskan luka yang amat pedih
Pedih dan
menghimpit sanubari kecilnya
Terlebih dihati
seorang isteri yang Engkau cintai
Sadarlah wahai
Radenku.
Malaikat JAHAT
Duhai Radenku
yang tampan, Engkau sudah mapan
Mengemban amanat
pun telah engkau jalankan
Kini saatnya
engkau bersenang-senang
Merintis cumbu
manis yang mengikis senja yang tak diketahui
Tak ada yang
salah darimu
Engkau pantas
begitu
Isterimu tak
sepantasnya marah, dan kau berhak melakukan itu
Buka klambu
bukan lagi jadi halangan untukmu
Sceen 3
TEMAN YANG JAHAT
Terdengar berita
burung
Berhembus
sekencang angin
Namun bukan
berarti dingin
Selayang hembus
yang tergugu
memadu kasih di
masa sendu
memburu rindu
memanas kalbu
Oh suamimu tega
berbuat murka di mata dunia
Tak malukah
engkau wahai isteri pak lurah?
Yang terdiam
bisu hati membeku
Berdamping sok
syahdu toh engkau pun dimadu
Hahaha… lurah
macam apa itu?
Hati pun pintar
merayu
Seperti dihantam keras di dasar kalbu, namun tetap
tak ada yang tahu bagaimana ia tersedak oleh cakap halus dan menusuk.
PUISI ISTERI
Wahai engkau
sang syahdu penata rindu
Tidakkah kau
tahu berita panas yang memanas di luar sana
Dengan sumbu
yang menggebu sepertinya kita akan jadi masa lalu
Apakah benar
engkau menduakan daku wahai pangeranku
Aku memang
mencintaimu
Tapi aku tidak
mau kau merayu yang ayu
Dan aku tidak
ingin kau madu
Teganya kau
bermain dibelakangku
Padahal engkau
nahkoda perjalananku
Engkau sumbu di
desa yang engkau kuasai
Tak sepantasnya,
sungguh tak sepantasnya engkau begitu
Kini aku sudah
tak mau tahu menahu
Kita bukan lagi
insan yang terjalin dengan ikatan janji pernikahan
Dan semua bukan
lagi keabadian cinta yang kita punya
TEMAN BAIK
Wahai kau isteri
yang berhati mulia dan sabar
Apa yang kini
ada dibenakmu
Meratapi
serpihan kaca yang pecah,
Tak ada gunanya
Namun, jika kau
miliki segudang sampah hati
Keluarkanlah
walau tangis membasahi pipi manismu
Meresapilah
keagungan misteri Illahi, yang menusuk hingga relung hati
Biarlah air
menari menggelitiki geming hati karena setelah itu tak kan ada lagi duka suci
Sceen 4
Kini semuanya susah ditebak, semua
hanyalah tinggal renungan, walau rancu kepedihan masih mengganjal di kalbu
terdalam.
(Pak Lurah duduk
di depan rumah sembari merokok)
Bukan dengan
mata AKU melihat dunia
Tapi dengan
harta AKU mendapatkan semua
Sembulan rokok yang dia lakukan, tak
dapat menghindarinya dari serbuan.
(2 kali
sembulaln rokok lalu setelah itu datanglah perampok. Dengan membawa tas gendong
biasa yang di dalamnya terdapat tali untuk mengikat pak Lurah.)
PERAMPOK 1
Diam!!!
Tak usah kau
coba meronta
Tak usah kau
coba teriak
Atau senapan ini
kan melesat dengan dahsyat.
PERAMPOK 2
Sudahlah kau
Tak usah banyak
cakap, segera jiret dia dan kita kuras habis hartanya
(Setelah pak
Lurah selesai di ikat dengan tali di bangkunya tadi, para perampok masuk ke
dalam rumah mengambil seluruh harta kekayaan yang terlihat disana)
PERAMPOK 1
Mampuslah kau!!
Setelah isteri
telah pergi, harta pun kini tiada
Hahaha….
PERAMPOK 2
Apa lebih baik
kau mati?
Apa lebih baik
kau tercaci?
Kini bukan lagi
harga diri
Engkau seakan
semakin sendiri
Tanpa wanita
serta harta dan tahta
Berusaha melepaskan diri dari dua
orang penyerang yang menghilang diraup pandangan.
Tiba-tiba kedua
orang teman Pak Lurah datang menghampiri:
Teman 1:
Oh sungguh, kau
lihat kawan kediaman itu berporak porandakan
Apakah pak Lurah
mengamuk atau kenapa?
Sepertinya ada
yang tidak beres disana
Ada yang
terlihat janggal dan entah apa itu
Teman 2:
Sepertinya
tidaklah perlu kita menengok ke dalam sana
Walau kita tak
tahu dan entah apa yang terjadi
Ambisi yang
salah ketika kita kesana dan ternyata
Sedang ada sang
mantan istri berada.
Teman 1:
Tidak, tidaklah
mungkin, lebih baik kau ikuti aqu untuk menengok ke dalam.
(teman kedua
mengikuti langkah teman 1 yang menuju ke dalam dan melihat pak Lurah dalam
dekapan tali)
Teman 2:
Duhai Raden,
kaulah seorang Lurah.
Kenapa tali-tali
itu dapat menjeratmu?
Teman 1:
Sudahlah lebih
baik kita lepaskan dahulu tali-tali ini dari Pak Lurah
(setelah tangan
pak Lurah terlepas, ia pun berkata)
Kalian datang
disaat yang tidak tepat
Aqu sedari tadi
ditawan oleh para perampok bajingan itu
Seluruh hartaqu
pun telah tiada
Tak ada gunanya
kalian ada disini
Pergi sana….
Selang beberapa
menit ketika ia sedag terjongkok merenungi yang baru saja dirasakan, Tak ada
angin, tak ada hujan, walau ada rasa yang tak menahu. Dan ternyata ada yang
tiba-tiba datang.
BUPATI:
Duhai Lurah, ku
serahkan SK pemberhentianmu
Dengan segala
masalahmu, kau tidak pantas lagi ada untuk memimpin desa ini
Kuucapkan terima
kasih, untuk semua jasa yang kau beri untuk menopang pembangunan negeri ini.
Entah apa dan mengapa hati kecilnya
berasa ciut dan merasa salah. Ketika kemahamakmuran dan tahta tak lagi ada,
ketika janji suci pertautan hati tak lagi dimiliki, ketika perjalanan pengabdian
sejati hanyalah tinggal meniti. Dan langkah pun kini menjadi terhenti. Entah
apa, entah bagaimana, ia merasa harus bersuci. Teringat akan kuasa Tuhan, yang
selalu menanti hambanya berserah diri.
Suara hati PAK LURAH
BAIK:
Tuhan dimana titik
khilafqu berada
Aqu hanyalah seonggok
daging manusia yang terlanjur masuk dalam kepahitan sandiwara hidup.
Dan kini ku berusaha
pulang menuju Engkau yang hakiki
Semua telah tak ku
punya, sebagi Lurah pun aqu telah diberhentikan.
Saat ia sedang merenungi masalahnya, sang istri yang dulu
pergi kini datang kembali.
PAK LURAH
Duhai Diajeng sayang
Masihkah kau mau
menengok abang yang malang
Kini abang tak miliki
apapun
ISTRI PAK LURAH
Duh abang yang malang
Diajeng datang karena
merasa masih sayang
Tak ada alasan diajeng
harus menghilang
Dan kini Diajeng sadar,
kemewahan yang dulu ada hanyalah sebagai penghancur rumah tangga belaka
PAK LURAH
Terima kasih Duhai
Diajeng, adinda tersayang.
No comments:
Post a Comment