PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN DAN
PENYESUAIAN DIRI PESERTA DIDIK
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Perkembangan Peserta Didik
Dosen pembimbingan: Ridha Setyasih, M. Psi., Psi
Disusun oleh :
Yuyun Halimatul Adawiyah
Novi Lantikaningrum
Susianti
PROGRAM
STUDI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
FAKULTAS
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS
PGRI YOGYAKARTA
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana dengan judul Perkembangan Kemandirian dan Penyesuaian
Diri Peserta Didik. Makalah
ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Yogyakarta.
Oleh
karena itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada Dosen Perkembangan Peserta
Didik Rhida Setyasih, M.Psi., Psi yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada
penulis sehingga penulis termotivasi dan dapat menyelesaikan tugas ini.
Makalah ini kami akui
masih banyak kekurangan. Oleh kerena itu kami harapkan kepada teman-teman untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah
ini.
Semoga
makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan, khususnya bagi penyusun sehingga tujuan yang diharapkan dapat
tercapai. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala
usaha kita. Amin.
Yogyakarta, 01 maret 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peserta
didik menjadi pokok persoalan dan tumpuan perhatian dalam semua proses
transformasi yang disebut pendidikan. Sepanjang masa hidupnya,
manusia mengalami perkembangan dari sikap tergantung kearah kemandirian. Pada
mulanya seorang anak akan tergantung kepada orang-orang disekitarnya terutama
orang tua hingga waktu tertentu. Kemudian secara perlahan-lahan anak melepaskan
ketergantungan sehingga tercapailah kemandirian. Tercapainya kemandirian akan
menjadikan seseorang
tidak tergantung pada orang-orang disekitarnya, anak akan mampu mengatur
dirinya secara bertanggung jawab mengambil keputusan secara mandiri juga mampu memaknai
seperangkat prinsip-prinsip nilai. Pencapaian kemandirian bukanlah hal yang
mudah bagi remaja, namun kemandirian tetap
harus diraih karena kemandirian akan memberikan dampak yang positif bagi
perkembangan selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan kemandirian ?
2. Apa
yang dimaksud dengan penyesuain diri ?
C. Tujuan Penulisan
Kemandirian
tidak hanya didapatkan oleh remaja saat berada di rumah, namun kemandirian juga
didapatkan di sekolah.
BAB
II
Perkembangan
Keandirian dan Penyesuaian Peserta Didik
A.
Kemandirian
a.
Pengertian
kemandirian
Istilah “kemandirian” berasal dari
kata dasar “diri” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”, kemudian
membentuk satu kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari
kata “diri”, maka pembahasan mengenai kemandirian tidak bisa lepas dari
pembahasan tentang perkembangan diri itu sendiri, yang dalam konsep Carl Rogers
disebut dengan istilah self, karena diri itu merupakan inti dari kemandirian Dengan
demikian dapat dipahami bahwa kemandirian atau otonomi adalah kemampuan untuk
mengendalikan dan mengatur pikiran, perasaan dan tindakan sendiri secara bebas
serta berusaha sendiri untuk mengatasi perasaan-perasaan malu dan ragu-ragu.(Desmita,
2011:185).
Menurut Desmita (2009: 184)
perkembangan kemandirian merupakan masalah penting sepanjang rentang kehidupan
manusia. Perkembangan kemandirian sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan
fisik, yang pada gilirannya dapat memicu terjadinya perubahan emosional,
perubahan kognitif yang memberikan pemikiran logis tentang cara berpikir yang
mendasari tingkah laku, serta perubahan nilai dalam peran sosial melalui
pengasuhan orangtua dan aktivitas individu.
b.
Bentuk-bentuk
Kemandirian
Berdasarkan pendapat Robert Havighurst dalam Desmita (2009:
186) membedakan kemandirian atas lima bentuk kemandirian, yaitu sebagai
berikut:
a.
Kemandirian emosi, yaitu kemampuan
mengontrol emosi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi pada orang
lain.
b.
Kemandirian ekonomi, yaitu kemampuan
mengatur ekonomi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang
lain.
c.
Kemandirian intelektual, yaitu
kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
d.
Kemandirian sosial, yaitu kemampuan
untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung pada aksi
orang lain.
Bentuk kemandirian diatas merupakan faktor yang sangat
mempengaruhi suatu kemandirian peserta didik, dimana yang dimulai dari
kemandirian emosi, ekonomi, intelektual, dan sosial.
Steinberg dalam Desmita (2009: 186), karateristik
kemandirian ada tiga bentuk, antara lain sebagai berikut :
1.
Kemandirian
emosional (emotional autonomy),
yakni kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar
individu, seperti hubungan emosional peserta didik dengan guru atau dengan
orangtuanya.
2.
Kemadirian
tingkah laku (behavioral autonomy), yakni suatu kemampuan untuk membuat keputusan tanpa
tergantung pada orang lain dan melekukannya secara bertanggung jawab.
3.
Kemandirian
nilai (value autonomy), yakni
kemampuan memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah, tentang apa
yang pennting dan apa yang tidak penting.
c.
Tingkatan
dan Karakteristik Kemandirian
a.
Tingkat pertama, adalah tingkat impulsif dan
melindungi diri. Ciri-cirinya yaitu peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang
dapat diperoleh dari interaksinya dengan orang lain, cenderung menyalahkan dan
mencela orang lain serta lingkungannya.
b.
Tingkat kedua, adalah tingkat konformistik.
Ciri-cirinya yaitu peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan sosial, dan
merasa berdosa jika melanggar aturan.
c.
Tingkat ketiga, adalah tingkat sadar diri. Dimana
mampu berpikir alternatif dan menekankan pada pentingnya memecahkan masalah.
d.
Tingkat keempat, adalah tingkat saksama (conscientious).
Cirri-cirinya yaitu mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku
tindakan, kemudian sadar akan tanggung jawab.
e.
Tingkat kelima, adalah tingkat individualitas.
Ciri-cirinya yaitu kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dan
ketergantungan, peduli akan perkembangan dan masalah sosial-sosial.
f.
Tingkat keenam, adalah tingkat mandiri.
Ciri-cirinya yaitu cenderung bersikap realistik dan objektif terhadap diri
sendiri dan orang lain.
d.
Pentingnya
Kemandirian Bagi Peserta Didik
Pentingnya
kemandirian bagi peserta didik, dapat dilihat dari situasi kompleksitas
kehidupan dewasa ini, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kehidupan
peserta didik. Banyak pengaruh-pengaruh terhadap peserta didik seperti
perkelahian, mengarah pada tindakan criminal, penyalah gunaan obat dan alcohol.
Dalam konteks proses belajar, terlihat adanya fenomena peserta didik yang
kurang mandiri dalam belajar sehingga menimbulkan gangguan menatal setelah
memasuki pendidikan lanjutan, kebiasaan belajar yang kurang baik ( seperti
menyontek, membolos, belajar hanya pada saat akan menjelang ujian, dan mencari
bocoran-bocoran).
Fenomena-fenomena diatas, menuntut
dunia pendidikan untuk mengembangkan kemandirian peserta didik. Sunaryo
kartadinata dalam Desmita (2009: 189) menyebutkan beberapa gejala yang
berhubungan dengan permasalahan kemandirian yang perlu mendapat perhatian dunia
pendidikan, yaitu :
1. Ketergantungan
disiplin kepada kontrol luar dan bukan karena niat sendiri yang ikhlas.
2. Sikap
tidak peduli terhadap lingkungan hidup.
3. Sikap
hidup konformistis tanpa pemahaman dan konformistik dengan mengorbanan prinsip.
e.
Perkembangan
Kemandirian Peserta Didik dan Implikasinya Bagi Pendidik
Kemandirian adalah kecakapan yang
berkembangan sepanjang rentang kehidupan individu yang sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor pengalaman dan pedidikan. Oleh sebab itu, pendidikan disekolah
perlu melakukan upaya-upaya pengembangan kemandirian peserta didik (Desmita,
2009: 190), diantaranya:
1. Mengembangkan proses belajar
mengajar yang demokratis, yang
memungkinan
anak merasa dihargai.
2. Mendorong anak untuk berpartisipasi
aktif dalam pengambilan keputusan dan
dalam
kegiatan sekolah.
3. Memberi kebebasan kepada anak untuk
mengeplorasi lingkungan, mendorong
rasa
ingin tahu mereka.
4. Penerimaan positif tanpa syarat
kelebihan dan kekurangan anak, tidak
membeda-bedakan
antara anak yang satu dengan yang lain.
5. Menjalin hubungan yang harmonis dan
akrab dengan anak.
B.
Penyesuain
diri
a.
Pengertian
Penyesuain Diri
Baum dalam Desmita (2009: 193),
tingkah laku penyesuaian diri diawali dengan stress, yaitu suatu keadaan di
mana lingkungan mengancam atau membayakan keberadaan atau kesejahteraan atau
kenyamanan diri seseorang.
Menurut Voleman (1971), berfungsinya self system pada
seseorang melibatkan beberapa asumsi-asumsi yang dibuat sendiri oleh individu
yang bersangkutan. Asumsi-asumsi tersebut meliputi:
1. Reality assumption, yaitu pandangan
individu mengenai dirinya sendiri, apa yang dipikirkanya, siapa dirinya dan apa
sebenarnya sifat-sifat dari lingkungannya.
2. Possibility assumption, yaitu
pandangan individu mengenai hal-hal yang mungkin tentan perubahan-perubahan,
tentang kesempatan pengembangan diri dan hubungannya degan lingkungan
sosialnya.
3. Value assumption, yaitu pandangan
individu tentang baik dan buruk, salah dan benar, tentang yang diakui dan yang
tidak diakui.
Asumsi-asumsi
inilah yang akhirnya membentuk; frame of
reference yang merupakan suatu pandangan yang menetap pada diri individu
dalam hubunganya dengan lingkungan, serta merupakan hal penting untuk
mengarahkan tingkah laku individu tersebut. Dalam beberapa hal frame of reference yang dimiliki
individu merupakan dasar untuk mengevaluasi pengalaman-pengalaman baru, untuk Coping dengan dunianya.
Perbedaan individu ini menyebabkan
konsep penyesuaian diri menjadi relative sifatnya, sehingga tidak dapat dibuat
suatu pilihan cara-cara dalam menghadapi stress tertentu secara pasti. Menurut
Schneider (1964), cara dalam menghadapi diri itu dikatakan relative karena:
1. Penyesuaian
diri dirumuskan dan dievaluasi dalam
pengertian kemauan seseorang untuk mengubah atau untuk mengatasi tuntutan yang
mengganggunya. Kemampuan ini berubah-ubah sesuai dengan nilai-nilai kepribadian
dan tahap perkembangannya.
2. Kualitas
dari penyesuaian diri berubah-ubah terhadap beberapa hal yang berhubungan
dengan masyarakat dan kebudayaan.
3. Adanya
variasi tertentu pada individu.
b.
Aspek-Aspek
Penyesuain Diri yang Sehat
Penyesuaian
diri yang sehat lebih merujuk pada konsep “sehat”nya kehidupan pribadi
seseorang, baik dalam hubungannya dengan diri sendiri, dengan orang lain,
maupun dengan lingkungannya. System penyesuaian diri ini merupakan kondisi
untuk mengembangkan diri secara optimal.
Mengacu pada beberapa konsep tentang sehatnya kepribadian
individu yang diajukan oleh beberapa ahli, seperti kepribadian normal (Chole,
1953), kepribadian produktif (Fromm dan Gilmore, 1974), maka secara garis besar
penyesuaian diri yang sehat dapat dilihat dari empat aspek kepribadian, yaitu:
1. Kematangan
emosional mencakup aspek-aspek:
a. Kemantapan
suasana kehidupan emosional.
b. Kemantapan
suasana kehidupan kebersamaan dengan orang lain.
c. Kemampuan
untuk santai, gembira dan menyatakan kejengkelan.
d. Sikap
dan perasaan terhadap kemampuan dan kenyataan diri sendiri.
2. Kematangan
intelektual mencakup aspek-aspek:
a. Kemampuan
mencapai wawasan diri sendiri.
b. Kemampuan
memahami orang lain.
c. Kemampuan
mengambil keputusan.
d. Keterbukaan
dalam mengenal lingkungan.
3. Kematangan
sosial mencakup apek-aspek:
a. Keterlibatan
dalam partisipai sosial.
b. Kesediaan
kerja sama.
c. Kemampuan
kepemimpinan.
d. Sikap
toleransi.
e. Keakraban
dalam pergaulan.
4. Tanggung
jawab mencakup aspek-aspek:
a. Sikap
prosuktif dalam mengembangkan diri.
b. Melakukan
perencanaan dan melaksanakannya secara fleksibel.
c. Sikap
altruism, empati, bersahabat dalam hubungan interpersonal.
d. Kesadaran
akan etika dan hidup jujur.
e. Melihat
perilaku dari segi konsekuensi atas dasar system nilai.
f. Kemampuan
bertindak independen.
c.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Penyesuain Diri
Faktor-faktor yang mempengaruhi penysuaian diri dilihat
dari konsep psikogenik. Psikogenik memandang bahwa penyesuaian diri di
pengaruhi oleh riwayat kehidupan sosial individu terutama pengalaman khusus
yang membentuk perkembangan psikologis. Desmita (2009: 196), pengalaman khusus ini lebih banyak
berkaitan dengan latar
belakang kehidupan keluarga,
antara lain menyangkut sebagai berikut:
1.
Hubungan
orangtua-anak
Merujuk pada iklim hubungan sosial dalam keluarga, apakah
hubungan tersebut
bersifat demokratis atau otoriter.
2.
Iklim intelektual keluarga
Merujuk pada sejauhmana iklim keluarga memberikan
kemudahan bagi perkemmabangn intelektual ank, pekembangan berfikir logi atau
irasional.
3.
Iklim emosional
keluarga
Merujuk pada sejauhmana stabilitas hubungan dan komunikasi di dalam
keluarga terjadi.
Sementara itu dilihat dari konsep
sosiopsikogenik, penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor iklim lembaga sosial
dimana individu terlibat didalamnya, (Desmita, 2009: 197), antara lain sebagai
berikut:
Merujuk pada iklim hunbungan sosial
dalam sekolah.
2. Iklim inteletual sekolah
Merujuk
pada sejauhmana perlakuan guru terhadap siswa dalam memberikan kemudahan bagi
perkembangan intelektual siswa sehingga tumbuh perasaan kompeten.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Ada hubungan positif antara kemandirian dan penyesuaian diri
dalam proses pembelajaran di suatu lingkungan pendidikan. Manusia tidak
dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri, maka penyesuaikan diri
terhadap lingkungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan memerlukan proses yang
cukup unik. Proses penyesuaian diri dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu (1) hubungan
orangtua-anak (2) iklim
intelektual keluarga (3) iklim emosional keluarga. Dari konsep sosiopsikogenik,
penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor iklim lembaga sosial dalam lingkungan
pendidikan (1) hubungan guru dengan siswa (2) iklim intelektual sekolah.
B. Saran
a. Peserta
didik dapat belajar dengan mandiri.
b. Peserta
didik dapat belajar secara demokratis.
DAFTAR
PUSTAKA
Desmita.
2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.